Balada Ulat Kecil dan Kumbang Madu

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Dongeng Binatang

Ulat kecil

Ulat kecil

Pagi sudah sempurna datang, semburat cahaya mentari perlahan menerobos ke sela–sela dedaunan.

“Hoaamm… sudah hampir siang rupanya”, Ucap seekor ulat kecil sambil merentangkan kaki–kakinya. Sang ulat berjalan perlahan keluar dari salah satu lubang pohon tempatnya tidur semalam, hangat mentari pagi perlahan di rasakan kulitnya yang tertutup bulu–bulu halus. Ulat kecil itu melangkahkan kakinya menuju sehelai daun mangga yang ranum. Tapi baru berjalan beberapa langkah, terdengar sebuah suara yang dikenalnya.

“Pagi ulat kecil, jalanmu lamban sekali” ucap seekor kumbang madu yang terbang di sekeling ulat.

Kumbang Madu

Kumbang Madu

“Pagi kumbang” jawab ulat sambil tersenyum.
“Ah, andai kau punya sayap pasti lebih mudah untukmu melakukan semuanya.” ejek kumbang itu pada sang ulat. Sang ulat hanya tersenyum.

“Ya, akan tiba saatnya nanti.” jawab ulat kecil itu.

“Selalu itu yang kau katakan, tapi entah kapan tubuh kecilmu itu akan bersayap.” ucap kumbang lagi.

Tak peduli pagi, siang ataupun sore, kumbang madu itu selalu saja mengejek dan mengolok–olok ulat.

Sementara para penghuni taman lain tak ada yang memperdulikan perbincangan kedua makhluk kecil itu. Setelah puas mengolok–olok ulat kecil itu, kumbang madu kembali berkeliling taman, menghisap madu dari aneka bunga warna–warni yang ada di sana.

“Akan tiba waktunya untukku, memiliki sayap indah bahkan lebih indah dari milikmu kumbang.” tak henti sang ulat menanamkan kepercayaan itu pada hatinya.

Setelah puas dengan makanannya, ulat kecil itu memiliki kebiasaan memanjat hingga kebagian atas pohon, meneliti sekeliling taman yang memiiki pemandangan yang sangat indah. Bunga beraneka warna tumbuh dengan indahnya. Sejuk aroma pepohonan membuat sang ulat merasa betah berlama–lama di sana.
Dua minggu sudah sang ulat tumbuh, dan saat ini waktunya dia berisitirahat. Di sebuah dahan pohon mangga, dia membalut tubuhnya dalam balutan menyerupai kain, bermetamorfosa menjadi kepompong.

Lagi–lagi sang kumbang datang untuk menggodanya.

“Apa yang kau lakukan di dalam sana hai ulat?” Tanya sang kumbang sambil terbang di sekitar kepompong sang ulat kecil.

Kepompong

Kepompong

Ulat yang berada di dalam hanya bisa tersenyum dan menanti hari indah itu tiba. Hari demi hari dijalani sang ulat dengan sabar dan setia, tanpa pernah mengeluh. Sekalipun kumbang madu itu tak henti menggoda dan mengolok–oloknya seperti biasa. Semakin hari semakin besar kepompongnya, semakin sempurna metamorfosanya.

Sudah satu minggu berlalu, dan sudah selama itu pula sang ulat setia dalam semedi panjangnya. Kini tibalah saatnya.

Perlahan dari dalam kepompong muncullah sebuah kepala berantena. Sedikit demi sedikit bagian sayap terlihat, dan kemudian semua bagiannya tampak.

Hewan itu mulai mengepakkan sayapnya yang beraneka warna. Biru bercampur merah dan kuning, perpaduan warna yang sangat indah. Kepakan pertama sayap indahnya membuat semua penghuni taman berdecak kagum.

“Waahhh… indahnya, milik siapa gerangan sayap indah itu?” terdengar suara riuh dari para penghuni taman.

Tak terkecuali sang kumbang madu yang biasanya mengolok–oloknya. Kumbang madu bahkan menghentikan aktivitasnya menghisap madu di salah satu kelopak mawar yang berwarna merah nan indah. Ulat kecil yang telah berubah menjadi kupu–kupu cantik itu bergerak menuju ke arah kumbang.

Kupu-Kupu

Kupu-Kupu

“Tak ingatkah engkau pada diriku wahai sang kumbang?” tanya kupu–kupu.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” sang kumbang balik bertanya.

“Rupanya engkau memang benar–benar tidak mengenaliku ya”.

“Memang siapakah gerangan dirimu wahai mahluk bersayap cantik?” Tanya kumbang.

“Coba perhatikan baik–baik wajahku.” Sang kumbang mengikuti perintah kupu–kupu, ia serius meneliti wajah sang kupu–kupu.

Tapi usahanya sia–sia. Sang kumbang menggeleng, pertanda ia tak mengetahuinya.

“Akulah si ulat kecil yang selalu kau goda, sang ulat kecil yang berjalan lamban dan tidak memiliki sayap.” jelas kupu–kupu itu. Bukan main terkejutnya kumbang mengetahui hal itu.

“Oh benarkah?” Penyesalan terlihat jelas dari raut wajah kumbang. Ia segera meminta maaf pada kupu–kupu atas semua sikap buruknya selama ini. Kedua makhluk kecil bersayap itu kini menjadi sahabat baik.