Dongeng Anak: Monyet Makan Manggis

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Dongeng Anak

monyetDongeng Anak: Monyet Makan Manggis – Dari segi fisik, ia adalah pemuda yang kekar. Badannya sehat dan kokoh. Namun sayang, penampilannya nampak semrawut. Hidupnya tak memiliki arah yang jelas. Kerjanya hanya nongkrong dan nongkrong. Menghabiskan waktu dengan percuma di gardu pojok desa dengan teman-temannya. Bahkan, tidak jarang, ia hanya bengong di sana seorang diri. Ia merasa hidupnya tak berguna lagi setelah beberapa usaha yang ia rintis akhirnya kandas di tengah jalan. Pernah juga, ia bekerja pada orang lain tapi akhirnya keluar juga. Tidak betah karena merasa selalu diperintah.

Pagi hari ketika semua orang bangun dan segera berangkat ke tempat kerja masing-masing, pemuda tersebut biasanya masih terlelap tidur, dan baru akan terbangun ketika hari sudah siang. Dan dengan langkah lunglai serta tatapan kosong, ia akan ke gardu tersebut. Begitulah hari-hari yang ia lalui. Mengalir tanpa makna dan manfaat sedikit pun.

Suatu hari, pemuda tersebut diajak berburu ke hutan oleh pamannya. “Daripada tak ada yang kamu kerjakan, mending ikut paman berburu kijang di hutan,” ajak Sang Paman. “Bagaimana, mau?”

Dia tak langsung menyahut tapi malah mengeluh, “yah, kok ke hutan sih paman, apanya sih yang menarik di sana?”

“Khan, sudah paman bilang tadi,” jawab Sang Paman. “Kita hanya mau berburu. Titik! Kalau kamu tidak mau, ya sudah, paman berangkat sendiri.”

“Tapi masa aku ikut dengan tangan hampa begini?”

“Ya sudah, cepat sana, ambil senapan satunya lagi!”

Akhirnya, berangkatlah mereka berdua ke hutan. Tapi baru setengah perjalanan, si Pemuda mengeluh, “Aduh paman, kita beristirahat dulu ya? Capek nih!”

Sang Paman hanya bisa memandangi keponakannya dengan geleng-geleng kepala. “Parah benar anak ini,” bisiknya dalam hati. “Bagimana sudah hilang capeknya? Yuk, kita berjalan lagi!”

Baru beberapa langkah kaki tiba-tiba, “Ssssst…!” bisik Sang Paman pada pemuda tersebut sambil menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, “Tenang…tenang….!”

“Ada apa paman?” tanya pemuda itu dengan berbisik pula.

“Kamu lihat di sana! Dibalik semak-semak itu.”

“Semak yang mana paman? Yang mana?

“Itu…tu…yang di sebelah kiri pohon besar itu! Kamu lihat?”

“Ya, paman,” jawabnya.

“Ada apa?”

“Seekor kijang.”

“Betul sekali!” ujar Sang Paman. “Sekarang kamu arahkan senapanmu dan tembaklah kijang itu! Kamu siap?” kata pamannya dengan suara yang nyaris tak terdengar karena terlalu lirih. Takut kalau-kalau kijang itu mendengarnya dan lari.

“Siap paman!”

Pemuda itu mulai membidikkan ujung senapannya ke arah kijang di balik semak itu ketika tiba-tiba, “Ciiit….ciiit…ciiiit….,” tepat di atas kepalanya. Pada sebuah dahan pohon manggis, dua ekor monyet sedang bertarung sengit memperebutkan kepemilikan atas pohon itu. Monyet yang lebih besar itu pun menang dan berhasil mengusir monyet satunya.