Cerita Rakyat: Legenda Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Cerita Rakyat

Kabar tentang putri Purbasari yang kembali pulih dan cantik, ternyata sampai juga ke kerajaan Pasir Batang, membuat Putri Purbararang geram dan segera ingin pergi ke hutan untuk membuktikannya. Dan hari berikutnya, rombongan dari kerajaan Pasir Batang yang membawa Putri Purbararang dan tunangannya Indrajaya yang pesolek, mulai memasuki hutan tempat Purbasari tinggal.

Begitu sampai di pondok Purbasari, Purbararang segera saja berteriak-teriak memanggil Purbasari.

“Hai..Pubasari, ayo keluarlah.. aku ingin tahu, apakah kamu benar-benar telah sembuh dan pulih seperti dulu..” Demi mendengar suara kakaknya, Purbasari segera membuka pintu pondok, namun Lutung Kasarung segera berada di dekat kaki Purbasari dan berbisik.

“Mohon tuan Putri berhati-hati…”

“Iya Lutung, terima kasih. Aku akan selalu berhati-hati.” Putri Purbasari menuruni tangga dan tetap menjaga jarak dengan kakaknya.

“Oh, benar rupanya berita itu… kau kini telah pulih.” Putri Purbararang memandangi putri Purbasari dengan pandangan penuh iri dan dengki. Namun para prajurit dan Uwak Betara Lengser yang turut serta dalam rombongan justru merasa senang dan takjub, Putri Purbasari telah kembali pulih dan bahkan semakin cantik.

“Baiklah. Aku mau kita bertanding, dan siapa yang kalah, akan menerima hukuman berat dari aku, Ratu Pasir Batang… hahaa…!” Putri Purbararang berteriak dan berkacak pinggang dengan pongah.

Lutung kasarung, Uwak Betara Lengser dan para Prajurit memandang dengan resah, kepada Putri Purbasari. Dengan tenang Putri Purbasari tersenyum dan menjawab tantangan Putri Purbararang.

“Baik kakakku… Purbararang.. silakan. Pertandingan apakah itu, tentu aku akan menerima bila memang kalah, dan aku berharap kakak juga bisa berbesar hati bila kalah.”

“Hah?? Apa kau bilang? Aku akan kalah? Jangan berharap aku kalah walau dalam mimpimu sekalipun Purbasari..!” Purbararang dengan emosi tinggi menjawab Purbasari. Namun Purbasari hanya tersenyum mendengar jawaban kakaknya.

“Sekarang kita bertanding adu panjang rambut…. Kamu pasti kalah Purbasari..!” Kemudian Purbararang melepas sanggulnya dan terurailah rambutnya hingga melewati pinggul. Purbararang tersenyum mengejek pada Purbasari. Tak lama kemudian, Purbasari melepas sanggulnya, dan terurailah rambutnya yang hitam dan berkilau hingga di bawah lutut.Paraprajurit serentak berguman bagai dengungan lebah. Melihat itu Purbararang semakin kalap.. kemudian dia memanggil salah satu prajurit yang tertangkap basah tertawa.

“Hai..prajurit..tak tahu diuntung, maju kamu!, algojo.. pancung dia, karena telah berani menghina dan mentertawakan ratunya!” Seorang algojo maju dan menyeret prajurit malang itu agak jauh dari rombongan, si prajurit dengan muka pucat pasi memohon ampun namun tidak digubris oleh si algojo, dan beberapa saat kemudian, terdengar teriakan pilu dan ngeri bagi siapa saja yang mendengar, kecuali algojo dan putri Purbararang tentunya.

Semua prajurit akhirnya terdiam dan tegang, tak berani lagi berbicara barang satu atau dua patah kata. Semua menunggu dan berdoa, semoga tak ada lagi kekejaman yang terjadi yang dilakukan oleh Putri Purbararang.

Karena kalah setelah beradu rambut panjang, Purbararang akhirnya memanggil tunangannya, Indrajaya yang pesolek.

“Sekarang kita beradu pasangan siapa yang paling tampan.” Kemudian Indrajaya yang berada di atas kuda putih dan memakai pakain yang indah dan mahal tersenyum kearah Purbararang dan Purbasari.

“Ayo…. Purbasari, segera tunjukkan pada kami, siapa pasanganmu dan coba kalahkan pasanganku yang sangat tampan ini!”

Purbasari kembali tersenyum kemudian dia memanggil Lutung Kasarung yang sedari tadi berdiam di dekat pintu pondok di belakang Purbasari. Lutung Kasarung terkejut, dan semua yang hadir terkejut tidak menyangka Putri Purbasari akan memperkenalkan seekor monyet sebagai pasangannya. Kontan saja Purbararang tertawa terbahak-bahak dan memastikan dirinya yang akan menang.

“Hahahahahahhahahhaa…. Purbasari…. Purbasari..l. elucon macam apa ini heh?, Kau..kau..berpasangan dengan seekor monyet?? Whahahahahhaaa… whahahahhahhaha….!

“Tuan Putri Purbasari, benarkah tuan Putri memilih hamba sebagai pasangan tuan Putri? Lutung Kasarung masih belum percaya.

“Lutung Kasarung, tataplah mataku, apakah aku terlihat sedang berdusta..? ini benar adanya Lutung… aku percaya padamu, engkaulah yang aku kasihi dan sayangi.. dan aku tidak peduli bahwa engkau berwujud seekor lutung…apakah engkau bersedia menjadi pasangan hidupku Lutung?”

“Tuan Putri…” lutung masih menatap seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Ahhh… kalian mau mengulur waktu ya? Kalau mau main drama murahan. Jangan di sini…. sana… di lapangan dekat pasar biar jadi bahan tertawaan rakyat jelata..whahahahahahhahhaaa…!” Purbararang masih tertawa terbahak-bahak, namun belum selesai dia tertawa, tiba-tiba Lutung Kasarung bersemedi dan sebentar kemudian berubah menjadi seorang pemuda tegap, gagah dan sangat tampan dengan pakaian yang indah dan juga terlihat mahal, membuat semua yang hadir ternganga. Lalu dengan langkah penuh wibawa, pemuda tersebut melangkah pasti menuju ke arah Putri Purbasari.

lutung_kasarung3

“Hamba bersedia tuan Putri Purbasari…. menjadi pasangan hidup Tuan Putri… sekarang… dan selamanya….” Purbasari tersenyum dan Pemuda tadi balas tersenyum.

“Wahai, pemuda yang pernah menjelma sebagai Lutung Kasarung..siapakah dirimu sebenarnya?” Tanya Purbasari lembut.

“Hamba adalah Guruminda, hamba dari kahyangan khusus turun untuk tuan Putri Purbasari.”

“Oh, Guruminda… ini benar-benar anugerah dari yang maha kuasa.”

“Para Prajurit sekarang siapa yang lebih tampan? Guruminda ataukah Indrajaya? Apakah kalian masih mau memiliki ratu kejam seperti Putri Purbararang sementara Ratu kalian yang sebenarnya telah pulih dan memiliki pasangan hidup yang lebih tampan dan baik hati?” Tiba-tiba Uwak Betara Lengser angkat bicara setelah melihat semua yang telah terjadi.

Kemudian tanpa dikomando oleh panglima perang, para prajurit bergerak mengepung Purbararang dan Indrajaya, Putri Purbararang dan Indrajaya terlihat langsung pucat pasi dan memohon ampun.

Akhirnya Guruminda berbicara.

“Para Prajurit Pasir Batang, terima kasih atas kesetiaan kalian, Ratu kalian yang sebenarnya, Putri Purbasari telah kembali, dan sebagai hukuman untuk Putri Purbararang, Putri Pubasari akan segera mengumumkannya..”

“Baiklah para prajuritku… untuk memberi pelajaran dan hukuman kepada kakanda Purbararang, maka mulai saat ini, kakanda Purbararang harus menjalani hidup di pondokan ini selama dua tahun dan selanjutnya hidup di desa dan membantu orang-orang di desa yang ada di sebelah hutan ini, selama tiga tahun, agar Kakanda Purbararang bisa merasakan hidup sebagai rakyat jelata dan bisa menghargai rakyatnya….”

Suara Putri Purbasari terdengar mantab dan penuh wibawa, dan kemudian disambut dengan gembira oleh para prajurit yang hadir.

Dan berikutnya, Putri Purbasari, Guruminda, dan Uwak Betara Lengser kembali bersama rombongan ke Istana Pasir Batang, sementara Putri Purbararang tinggal di pondokan di tengah hutan bersama Indrajaya.

Semenjak dipimpin oleh Ratu Purbasari didampingi Guruminda, rakyat kerajaan Pasir Batang hidup sejahtera, dan bisa bekerja dengan tenang dan damai.

**********

Diadaptasi dari Legenda masyarakat Pasundan