Cerita Rakyat: Legenda Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Cerita Rakyat

Ketika matahari tengah terik-teriknya, Putri Purbasari enggan keluar dari pondoknya. Lutung Kasarung sedari pagi berkeliling meloncat-loncat sambil memberi isyarat supaya Purbasari keluar pondok, namun usahanya sepertinya sia-sia belaka. Hingga akhirnya Lutung Kasarung memberanikan diri mengetuk pintu pondokan Putri Purbasari.

“Putri Purbasari..keluarlah sebentar, ada yang ingin hamba tunjukkan kepada tuan putri.”

Tidak terdengar sahutan, tapi rupanya lutung kasarung tidak putus asa, dan mencoba mengetuk kembali pintu pondokan itu. Hingga tujuh kali ketukannya tak berbalas, lutung akhirnya duduk di dekat pintu pondok dengan sedih.

“Tuan putri..apakah engkau sakit..? hamba sungguh galau dan risau bila benar tuan putri sakit.” Lutung bergumam sendiri sambil matanya menerawang…

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu pondokan dibuka, dan muncullah Putri Purbasari dengan luka totol menghitam di sekujur tubuhnya yang semakin lebar dan parah.

“Iya lutung.. aku sedang tidak enak badan, dan lihatlah..luka-luka menghitam di tubuhku semakin parah.”

“Oh, tuan putri, ada yang ingin hamba tunjukkan, mari ikut hamba tuan putri.”

“Apa itu lutung…?” Sambil masih bertanya-tanya, Putri Purbasari mengikuti langkah Lutung Kasarung.

Tidak seberapa lama, sampailah Lutung Kasarung dan Putri Purbasari di sebuah kolam kecil yang berair jernih, dengan pancuran yang mengalir. Putri Purbasari terkejut, karena sejak berada di pondok dia belum pernah melihat kolam itu.

“Ini untuk tuan putri, silakan mandi di kolam tersebut..putri..mudah-mudahan sang maha kuasa bisa memberi kesembuhan untuk tuan putri..” kata si lutung sambil beringsut pergi.

lutung-kasarungPutri Purbasari dalam keheranannya mencoba untuk menuruti kata-kata sahabat baiknya, Lutung Kasarung. Dimasukkannya perlahan-lahan kakinya ke dalam kolam yang jernih tersebut. Kemudian ada rasa segar yang langsung menelusup di kakinya, lalu berikutnya, dia beranikan diri untuk menceburkan seluruh badannya di kolam. Putri Purbasari sangat menikmati mandi di kolam itu, merasakan kesegaran airnya, hingga tak menyadari, satu persatu luka totol-totol hitam yang ada di sekujur tubuh akibat diolesi boreh oleh kakaknya Purbararang sewaktu akan dibuang di hutan, menghilang satu persatu. Dan setelah dirasa cukup, Putri Purbasari naik kembali ke atas kolam dan memanggil Lutung Kasarung.

“Lutung… Lutung Kasarung… kamu di mana?” Panggil Purbasari sambil telapak kakinya masih di dalam kolam dan begitu gembira melihat tubuhnya kembali bersih dan wajahnya bersinar cemerlang terpantul dari permukaan kolam.

“Hamba di sini Tuan Putri.” Lutung Kasarung meloncat mendekat dan juga terlihat gembira melihat perubahan yang terjadi pada Putri Purbasari.

“Terima kasih Lutung… kini aku telah sembuh dari sakitku.”

“Hanya atas ijin sang maha kuasa Tuan Putri..hamba hanya perantara saja..untuk kesembuhan tuan putri..syukurlah bila Tuan Putri sudah pulih.”

“Iya lutung..ini salah satu bukti, Sang Maha Kuasa sayang kepadaku kan?” jawab putri Purbasari seraya tersenyum manis memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.

“Mari kita kembali ke pondok lutung… aku ingin berganti pakaian.”

“Mari Tuan Putri.”

Putri Purbasari kembali ke pondok diiringi lutung kasarung yang berjalan di sampingnya.

***