Cerita Rakyat: Legenda Jaka Kendil

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Cerita Rakyat

Sesampainya di istana, diserahkannyalah hati semut itu. Perhelatan pun digelar selama 3 hari 3 malam. Pada pesta pernikahan itu, seluruh rakyat dijamu hidangan yang enak-enak. Pesta akbar itu dimeriahkan pula oleh suara gamelan yang indah dan merdu dari langit hingga semua rakyat kerajaan itu bisa merasakan kegembiraan yang sama dengan keluarga raja.

Syahda beberapa bulan pun berlalu. Pada suatu hari, Raja mengadakan perlombaan ketangkasan berkuda untuk para ksatria. Pesertanya adalah para ksatria dari berbagai negeri yang berada di sekitar kerajaan. Perlombaan ini dilaksanakan di alun-alun kota. Oleh karena itu berdatanganlah semua ksatria yang gagah dan tampan ke tempat perlombaan.

Raja beserta permaisuri duduk di panggung kehormatan. Ketiga putrinya juga duduk di sana. Setiap peserta lomba adu ketangkasan berkuda melewati panggung kehormatan. Tiba-tiba muncullah seorang ksatria yang tampan lagi gagah. Dari kejauhan ia melesat mengendarai kudanya yang juga tampak gagah.

“Lihat tuh Melati, pangeran tampan seperti ini yang pantas mendampingi aku. Tidak seperti Kendhil buruk rupa yang menjadi suamimu itu.“ kata Putri Mawar kepada adiknya.

“Iya, Melati. Aku juga akan mencari suami yang seperti itu, tidak memalukan bila berdampingan dengannya.” sahut Putri Seruni.

Merasa diolok-olok kedua kakaknya, Putri Melati hanya menangis dalam hati. Biarlah suaminya jelek seperti Kendhil, tetapi ia mencintainya.

Ksatria nan tampan dan gagah tadi pun akhirnya sampai juga di depan panggung kehormatan. Sesampainya di sana, ia memberikan tanda hormat kepada raja seraya melemparkan bunga kepada Putri Melati. Dilempar bunga yang cantik oleh ksatria tampan, Putri Melati tidaklah merasa senang. Ia pun lari meninggalkan arena.

Dengan tersedu-sedu ia kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia tak melihat suaminya. Yang ada hanyalah sebuah kendhil yang kosong. Ke mana suaminya? Mengapa hanya kendhil melompong yang ada di sini? Karena perasaan yang bercampur aduk itulah, Putri Melati pun membanting kendhil itu hingga pecah berkeping-keping.

Tiba-tiba, datanglah ksatria gagah dan tampan yang tadi melemparinya bunga.

“Siapa kau?” tanya Putri Melati curiga.

“Tenanglah Adinda, aku adalah suamimu.”

“Tidak! Menjauhlah dariku, kau bukan suamiku. Suamiku adalah Jaka Kendhil. Bukan kau!” sahut Putri Melati.

“Tenanglah Adinda. Aku adalah suamimu, si Jaka Kendhil.”

“Bagaimana aku bisa percaya?”

“Aku adalah anak Raja Angkasa yang dikutuk oleh penyihir jahat. Satu-satunya yang bisa menghilangkan kutukanku adalah bila aku menikah dengan seorang putri yang mau mencintai aku dengan tulus. Engkaulah itu Diajeng.“

“Benarkah?” tanya Putri Melati serasa tak percaya.

“Yakinlah, Dinda Melati. Bukankah engkau juga telah memecahkan kendhil kutukanku?”

jaka_kendil2

Mendengar ucapan suaminya, Putri Melati pun percaya. Ia pun mengajak suaminya, si Jaka Kendhil yang telah kembali menjadi pangeran tampan untuk menemui ayah dan saudara-saudaranya. Melihat adiknya akhirnya menikah dengan pangeran tampan, Putri Mawar dan Putri Seruni pun hanya bisa gigit jari sambil menyesali mengapa dulu mereka tak menerima pinangan Jaka Kendhil.