Cerita Rakyat: Legenda Jaka Kendil

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Cerita Rakyat

jaka_kendil

Syahdan, di desa Dadapan, tinggallah seorang janda miskin yang bernama Mbok Randha Dadapan. Mbok Randha ini tidak mempunyai anak kandung, tetapi ia mempunyai seorang anak angkat. Anak angkatnya ini berwajah buruk, berkulit hitam, berbadan pendek. Karena keadaan tubuhnya yang sedemikian rupa, maka ia pun dipanggil Jaka Kendhil. Kendhil adalah semacam periuk untuk menanak nasi atau merabus air yang terbuat dari tanah liat. Jika terlalu sering dipakai, kendhil akan berwarna hitam.

Jika Mbok Randha sedang membantu tetangganya yang punya hajat, maka Jaka Kendhil diajak serta. Ia selalu duduk diam di dekat tempat menata makanan. Orang yang ada di situ akan mengira bahwa dia memang benar-benar kendhil . Maka, pulanglah ia dengan banyak makanan di atas kepalanya.

jaka_kendil3

Pada suatu hari, Jaka Kendhil meminta kepada ibunya untuk melamarkan gadis.

“Kau ingin mencari istri Anakku?” tanya Mbok Randha.

“Ya, Mbok.”

Mbok Randha terdiam. Dalam hatinya ia berpikir, siapa yang mau menikah dengan laki-laki hitam buruk rupa seperti kendhil ini? Akan tetapi ia tak sanggup untuk mengatakan hal ini kepada anaknya.

“Baiklah Anakku, siapa yang hendak engkau pinang?”

“Putri Raja, Mbok. Salah satu dari ketiga putri raja, siapa pun dia Mbok. Lamarlah untukku!”

“Ngger, kamu mengerti apa yang kau katakan?” tanya mbok Randha ketakutan. “Putri Raja Ngger! Salah bicara, nanti kita bisa dibunuh.”

“Tapi Mbok, pokoknya aku mau putri raja. Pokoknya aku mau mati saja jika Simbok tak mau meminangkan putri raja untukku!”

“Baiklah Ngger, baiklah! Besok kita ke istana menemui Raja.”

Keesokan harinya, dengan setengah hati Mbok Randha beserta Jaka Kendhil menemui Raja di istana. Sesampainya di istana, Mbok Randha Dadapan pun mengutarakan maksudnya hendak meminang salah satu putri raja. Mendengar niat Mbok Randha, Raja yang bijaksana itu tidak murka. Ia pun menyerahkan keputusan kepada putri-putrinya.

“Baiklah Mbok Randha, aku mengerti apa yang engkau maksud. Memang berat untuk memenuhi keinginan anakmu. Namun, aku akan menyerahkan semua keputusan kepada putir-putriku,” kata Raja.

“Hulubalang, coba engkau panggil Kenanga ke sini!”

Beberapa waktu kemudian, datanglah Putri Kenanga. Ketika Raja menyampaikan keinginan Jaka Kendhil dan Simboknya, dijawablah oleh Kenanga “Ah, tidak mau Ayah. Kulitnya hitam begitu. Wajahnya juga buruk. Aku mau pangeran yang tampan saja Ayah.”

Mendengar jawaban Kenanga, Raja pun meminta maaf kepada Mbok Randha, “Maafkan anakku, Mbok Randha. Coba kita tanyakan kepada Seruni.” Lanjutnya kepada hulubalang, “Hulubalang, coba kamu panggil Seruni kemari!”