Cerita Rakyat: Kisah Cindelaras

Komentar

Bagikan ke: facebook twitter gplus

Dongeng Anak | | Kategori Cerita Rakyat

cindelaras5

Di tepian sebuah hutan, tinggallah seorang anak lelaki bersama ibunya. Anak lelaki ini bernama Cinde Laras dan ibunya bernama Dewi Limaran. Mereka tinggal berdua di dalam sebuah gubug yang reot, meskipun demikian hidup mereka bahagia.

Pada suatu hari, ketika Cinde Laras sedang bermain di halaman rumahnya, terbanglah seekor burung elang. Burung elang itu menjatuhkan telur ke dekat kaki Cinde Laras.

“Hai, Cinde Laras! “ seru Elang kepada Cinde Laras.

“Burung Elang! “ seru Cinde Laras takjub, “Engkau bisa bicara?”

“Aku bawakan telur untukmu, Cinde Laras. Rawatlah ia!” seru Elang kapada Cinde Laras.

“Baiklah, Elang. Terima kasih ya.” sahut Cinde Laras.

Ia pun kemudian memungut telur yang dijatuhkan oleh Elang. Kebetulan ayamnya sedang mengerami telurnya, sehingga ia pun menitipkan telur itu untuk ditetaskan. Ketika menetas, ternyata seekor ayam. Ia pun merawatnya dengan baik sehingga ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat.

Istimewanya, ayam ini pandai berkokok dengan bahasa manusia.

cindelaras

Kalau berkokok, bunyinya seperti ini : Kukuruyuuuukkk…, Jagone Cinde Laras, Omahe tengah alas, Payone godhong klaras, Ibune Dewi Limaran, Bapake Raja Jenggala.

Jika diartikan, maka kokok ayam itu berbunyi : Kukuruyuuukk, Jagonya Cinde Laras, Rumahnya di tengah hutan, atapnya dari daun bambu. Ibunya bernama Dewi Limaran, Ayahnya adalah raja Jenggala.

Mendengar ayamnya berkokok seperti itu, Cinde Laras yang telah tumbuh menjadi remaja tanggung pun bertanya kepada ibunya, “Ibu, benarkan aku adalah anak Raja?”

Ibunya yang juga turut mendengarkan kokok ayam jantan itu pun akhirnya bercerita. Sebenarnya ia adalah permaisuri Raja Jenggala. Oleh selir raja yang tak suka, ia pun difitnah. Raja pun percaya pada fitnah itu.

Pada suatu hari, Raja berpura-pura mengajak Dewi Limaran pergi ke hutan. Di tengah hutan, Dewi Limaran yang saat itu sedang hamil muda tergiur melihat buah buni. Ia pun meminta Raja untuk mengambilkan. buah tersebut. Raja lalu memanjat pohon itu. Sesampainya di atas, bukan buah buni yang diambilnya melainkan sarang semut. Dilemparkannya sarang semut itu ke mata permaisuri. Permaisuri pun kesakitan dan mencari air untuk membersihkan matanya. Di saat itulah, Raja meninggalkan permaisuri sendirian.

Permaisuri yang akhirnya sadar kalau ditinggalkan suaminya pun kemudian dengan susah payah mencari jalan keluar. Sesampainya di tepi hutan, dengan dibantu penebang kayu yang kebetulan lewat, ia pun mendirikan gubuk tempat ia dan anaknya kelak tinggal.

Mendengar cerita ibunya, mendidihlah darah Cinde Laras.